Chapter 28

Rasanya memang seperti ini, saat aku menghabiskan banyak waktu bersama Kemal. Imaginasiku tentangnya, terus membentuk bayang-bayang kebersamaan panjang yang tak akan ada akhirnya. Dia cinta pertama, orang pertama yang berani datang ke rumah di pagi buta, mengajakku keliling Malioboro, menikmati sarapan. “Satu jam lagi,”kata kemal setelah melirik arlojinya. 
“Ya sudah. Sekarang aja kita berangkat.”ucapku. 
“Oke, kamu nggak mau makan gorengan dulu?”
“Antre, Mal. Kapan-kapan saja deh.”


Aku dan kemal berjalan beriringan menuju parkir spedah. Tak jauh dari parkir, tepatnha sebelah selatan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biar Ditanyakan

Sebuah Cerita

Yang Lagi Hits Di Bulan Juni ini: Tulisan Plagiat, Coppasan dan contekan